Takdir....Jika takdirku adalah ajal.Ingin aku berpisah denganmu dengan khasanahNya. Aku tak takut jika harus terpisah dari setiamu, namun aku takut jika harus berpisah dengan agamaNya.Bawalah aku pada lembar sahabat yang meninggalkanmu dengan syahidnya.Agar aku tahu bahwa berjuang bukan hanya menuntut hasil yang gemilang, karena dengan mati bersama syahid adalah puncak yang diidamkan.
Takdir....Aku selalu berusaha payah untuk mendugamu dengan kebaikan.Bukankah Baginda berjanji bahwa apa yang datang darimu pada hambaNya adalah berupa kebaikan. Sesengsara apapun kau tempa aku, bukankah itu yang terbaik bagiku? Karena penilaian hamba adalah hanya praduga dan prasangka semata.Sementara penilaianNya adalah berada di atas segalanya.Selama ini aku meminta sabar selalu di sampingku, maka aku harus menanggung resiko untuk ditempa terus-menerus.Supaya aku kebal dengan tempaan lantas sabar adalah kebiasaan.
Takdir....Seberapa dekat engkau denganNya, sampai kau begitu dipercayaiNya?Jika aku bisa merayumu, ingin ku intip selembar hari esok.Ingin kuhapus kesalahan di lembar kemaren sore. Meski sebait, begitulah berarti pada masa penghisaban kelak.Tapi mustahil bukan? Karena merayumu seperti menunda kematian, meski sedetik.
Takdir....Tak ada alasan untuk ingkar padamu.Tak ada penutup mata untuk memandangmu sebelah mata.Esok adalah milikmu, yang akupun buta olehnya. Kemaren adalah milikku yang hari ini adalah milikmu, yang aku telah tuli mendengarnya.Dan hari ini, kita masih saling rebut, agar lusa, aku mendengar hari ini sebagai kemarin yang merdu dan syahdu.
Takdir. Maukah berdamai denganku?
Takdir. Maukah berdamai denganku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.